Jumat, 20 April 2012

BUNARENDANG, CARA PRAKTIS MENIKMATI RENDANG

Ragam kuliner ITS kembali bertambah. Setelah Sego Njamoer, Burger Krawu, Sate Bathik melejit lebih dulu, kini Bunarendang (burger nasi rendang) siap menyusul. Sesuai dengan namanya, kuliner ini menawarkan cara praktis menikmati rendang.

Adalah Rian Kurniawan, mahasiswa Teknik Mesin ITS yang mempunyai gagasan ini. Ia menceritakan bahwa ide ini dimulai dari niat biasa. Yakni, merubah hidangan peringkat pertama dalam daftar World 50 Most Delicious Foods menjadi lebih komersil dengan konsep yang lebih praktis selayaknya makan burger.

Awalnya, ide ini hanya berupa gagasan. Meski begitu, gagasan ini langsung mendapat apresiasi yang cukup besar. Ide ini berhasil menjadi finalis Sosro Joy Green Tea Youth Business Competition 2011.

Dalam kompetisi tersebut, Rian mengajak serta Ludianto Dwi Saputro dan Richard Wachju Wijaya. Dalam perkembangannya sebagai finalis, tim ini juga menggandeng Abdul Rochman Supriyanto, Marketing Oketoys, Devid Indra Winata mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Luthfia Inggriani, mahasiswa Ekonomi Islam Universitas Airlangga (Unair).

Meski masih berumur jagung, usaha ini tidak main-main untuk dijalankan. Betapa tidak, Bunarendang telah me-launching produknya sebanyak dua kali. Launching pertama telah digelar November lalu. "Launching ini untuk memperkenalkan produk kami ke masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, launching kedua digelar awal Maret. Launching ini pun dapat dikatakan sebagai grand launching. Pasalnya, digelar di dua tempat. Masing-masing adalah Java Jazz Festival (JJF) 2012 Jakarta Convention Center (JCC) dan di Pasar Minggu ITS (Pamits).

Sebagai kuliner baru, tantangan Bunarendang untuk dapat bersaing memang besar. Namun, tim ini tak pernah gentar menghadapi persaingan tersebut. "Bunarendang adalah yang pertama menginovasi rendang," terang Richard, salah satu anggota.

Berkaca dari acara grand launching, Bunarendang mendapat tanggapan yang positif. Tak hanya konsumen dalam negeri yang tertarik dengan produk ini. Sejumlah konsumen dari negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Perancis pun turut tertarik dengan kuliner baru ini.

Di pasar dalam kota, Bunarendang terus melebarkan sayapnya. Mulai dari kampus hingga beberapa kantor pemerintahan dan perusahaan. Sementara di ITS sendiri, mahasiswa D3 Teknik Mesin ini menyebutkan hampir 80 persen mahasiswa telah mengenal Bunarendang. "Sisanya akan segera menyusul," candanya.

Sebagai makanan cepat saji, sasaran pasar Bunarendang adalah konsumen dengan tingkat kesibukan tinggi. Utamanya mahasiswa dan pekerja. "Bunarendang memang dibuat sebagai makanan praktis sehingga cocok untuk orang-orang yang tidak mempunyai banyak waktu untuk makan," ujarnya.

Seperti kebanyakan bisnis lain, modal juga menjadi hambatan bagi Bunarendang. Apalagi untuk biaya marketing. Namun, Richard menerangkan bahwa biaya ini mulai dapat ditekan. Caranya adalah dengan promosi lewat mulut ke mulut. Jika produk berkualitas, maka pasti akan menarik konsumen. "Bunarendang tidak hanya menawarkan harga, tetapi juga rasa," ujarnya.

Richard kembali menjelaskan bahwa tidak ada paksaan untuk menjalankan bisnis ini. Semua adalah pilihan individu. Namun, bukan berarti harus mengorbankan kuliah. "Kuliah tetap nomer satu," lanjutnya.

Menjalankan bisnis secara tim memang tidak mudah. Untuk itu, upaya untuk memperkuat tim merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Begitu juga dengan tim ini. Sambil menjalankan bisnisnya, manajemen tim diperkuat. Standar operasional tim juga ditingkatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar